Di era globalisasi seperti saat ini, mahasiswa harus mampu meningkatkan kompetensi untuk dapat bersaing di dunia kerja. Salah satunya adalah kompetensi dalam penggunaan bahasa asing.
Keberadaan bahasa asing saat ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Hampir seluruh sektor kehidupan menuntut seseorang mahasiswa untuk dapat berbahasa asing, ironisnya banyak mahasiswa yang belum menyadari pentingnya penggunaan bahasa asing. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa asing khususnya bahasa Inggris, adalah jendela untuk mengetahui berbagai macam hal yang ada di negara lain.
“Menurutku, belajar bahasa asing sedini mungkin sangat diperlukan,” tegas Satrio Yoga Aji mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMS, kepadaJoglosemar Senin (8/3).
Satrio menuturkan mahasiswa harus memiliki keunggulan dan berkompetisi bukan hanya dalam lingkup nasional melainkan harus merambah pada lingkup internasional. “Untuk menembus dunia pendidikan bertaraf internasional sudah dipastikan mahasiswa harus menguasai berbagai macam bahasa asing, bukan hanya bahasa Inggris saja,” paparnya.
Satrio mengakui Meskipun pihak kampus telah memberikan berbagai macam fasilitas untuk menunjang kegiatan mahasiswa dalam melatih kemampuan berbahasa Inggris, tapi beberapa mahasiswa memang ada yang terlihat cuek dan belum menganggap penting penggunaan bahasa asing.
Banyak faktor yang membuat mahasiswa enggan atau malas berbahasa asing, salah satu di antaranya adalah sulitnya pengucapan dan pelafalan yang harus dipelajari oleh mahasiswa. Faktor lain yang membuat mahasiswa tidak tertarik belajar bahasa Inggris karena beberapa dosen atau tenaga mengajar menggunakan metode atau cara-cara belajar yang konvensional, sehingga membuat mahasiswa merasa bosan.
“Mahasiswa kurang memiliki kesadaran tinggi untuk belajar bahasa asing karena mahasiswa tidak sedini mungkin diberikan pengarahan bahwa belajar bahasa asing sangat penting, terlebih di era teknologi dan perkembangan zaman ini,” kata Martha Timur mahasiswa Jurusan Akuntansi Magistra Utama.
Martha menambahkan faktor lain yang membuat mahasiswa malas belajar bahasa asing karena tenaga pengajar di kampus tidak dapat menyampaikan metode pembelajaran yang atraktif bagi mahasiswanya.
Manfaat
Sementara Ketua Pusat Pelatihan dan Pengembangan Bahasa (P2B) Universitas Sebelas Maret (UNS), Novita Arysusanti mengatakan belajar bahasa asing sangat membantu dan menguntungkan mahasiswa ketika telah selesai menempuh studi di perguruan tinggi.
“Terlebih lagi mahasiswa yang ingin bekerja di perusahaan asing, secara otomatis penguasaan bahasa asing akan sangat diutamakan. Bahkan tidak jarang beberapa perusahaan nasional memberikan kualifikasi pada para pelamar setidaknya harus mampu menguasai minimal satu bahasa asing,” turur Novita.
Novita menambahkan belajar bahasa asing harus muncul dari dalam diri masing-masing mahasiswa, karena nantinya yang akan menikmati manfaat dari kemampuan mahasiswa dalam penguasaan bahasa asing adalah mahasiswa itu sendiri. (Windy Anggraina)








