Jumat, 10/09/2010
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com | Baca berita seputar ramadhan pada menu Umum -- Mozaik Ramadhan --

Dulmatin Tewas Ditembak?

Rabu, 10/03/2010 09:00 WIB - dtc/sus

TANGERANG—Jejak persembunyian teroris paling dicari Dulmatin, tamat sudah. Pria asal Pemalang, Jateng, yang mahir merakit bom itu disergap Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di Warnet Multiplus, kompleks Ruko Pamulang Square, Kota Tangerang Selatan Banten, Selasa (9/3). Ia tewas saat berada di warung internet dengan posisi duduk, sambil memegang pistol. Dalam penggerebekan di Pamulang, tiga teroris diduga tewas.

Diendusnya keberadaan Dulmatin alias Amar Usmanan alias Joko Pitoyo alias Joko Pitono alias Abdul Matin itu, karena sebelumnya Densus 88 Mabes Polri menangkap 21 teroris di Aceh. Dari pengembangan tersebut, Densus 88 Mabes Polri berhasil menyergapnya. Meski sejauh ini, Mabes Polri belum menyebut identitas teroris yang tewas, itu. Patut diduga, teroris yang tewas dalam penyergapan di kompleks ruko Pamulang, Dulmatin.
Selang, dua kilometer dari kompleks ruko, tepatnya di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang,  Densus 88 Mabes Polri menggerebek di rumah Dr Fauzi. Dalam penggerebekan itu, dua teroris tewas seketika dan dua ditangkap hidup-hidup.
Kepala Densus 88 Mabes Polri, Brigadir Jenderal Tito Karnavian mempertegas pelaku Pamulang terkait Aceh. “Iya, dia biang keroknya yang kirim orang ke Aceh,” kata Tito Karnavian seperti dikutip vivanews.com, Selasa (9/3).
Sebelumnya, Manajer Multiplus, Rinda mengatakan sebelum Densus melakukan penggerebekan, Multiplus kedatangan tamu seorang laki-laki berjenggot. Dia mengenakan jaket hitam, usianya sekitar 30-40 tahun. “Dia langsung main di lantai atas, bilik nomor 9. Setelah tamu itu masuk, 10-15 menit kemudian masuk Densus. Sempat terdengar tembakan tiga kali,” kata Rinda.
Dalam penyergapan yang berlangsung siang itu, diwarnai baku tembak antara petugas dengan teroris. Kendati demikian, teroris yang diduga Dulmatin, tewas dalam penyergapan. Dulmatin yang pernah mengenyam pendidikan merakit bom di Afghanistan dan Mindano, Filipina, tersebut diduga menjadi salah satu otak Bom Bali I.
Terkait keberhasilan menggerebek sarang teroris di Pamulang, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang mengatakan pria yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Ruko Multiplus Pamulang adalah YI alias M. “Hari ini tertangkap dan ada yang tertembak di Pamulang. TKP pertama itu pukul 11.00 WIB di Jalan Siliwangi No 6 Pamulang. Tertembak satu orang berinisial YI alias M,” ujar Edward Aritonang dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (9/3).
75 Persen Dulmatin
Edward hanya menjelaskan sedikit mengenai identitas YI. Menurut dia, YI merupakan pemasok senjata dan pendukung dana dalam kegiatan teroris tersebut. Tapi siapa nama lengkap YI? Edward tidak mau membocorkan. “Kita tunggu dari RS satu atau dua hari,” ujarnya.
“Identifikasi yang kita dapat sementara dari identitas yang melekat di tubuhnya atas nama YI alias M. Nanti disampaikan selengkapnya setelah hasil identifikasi selesai karena bisa saja identitasnya palsu atau benar,” ungkap Edward. Katanya, mereka memiliki kaitan dengan kelompok Aceh. “Mereka sebagai pemasok senjata dan pendukung dana dalam kegiatan tersebut,” kata Edward.
Edward menjelaskan selain melakukan penggerebekan di warung internet di Jalan Siliwangi yang kemudian menewaskan YI alias M dan di Gang Asem, R dan H, polisi juga melakukan penangkapan terhadap 4 orang yang diduga masih terkait kelompok jaringan Aceh. “Penangkapan empat orang di Jakarta dan Jawa Barat,” tutupnya.
Selain itu, menangkap dua laki-laki dari rumah milik Dr Fauzi. “Inisialnya DR alias AH dan SB alias I,” katanya di Mabes Polri. Katanya, saat ini kedua orang tersebut masih dalam pemeriksaan. “Kami masih melakukan pencocokan keterangan-keterangan,” kata Edward.
Dalam dua kali penggerebekan di dua lokasi berbeda di Pamulang, Densus 88 menembak mati tiga tersangka teroris. Satu di Ruko Multiplus yang berada di Jalan Siliwangi dan dua lagi di Gang Asem. Jarak dua lokasi penggerebekan ini sekitar 2 km. Dalam penggerebekan di Gang Asem, berlangsung dramatis, salah seorang teroris sempat mencoba kabur dengan mengendarai sepeda motor. Teroris itu, memboncengkan wanita bercadar, namun saat melewati gang mereka ditembak Densus.
“Yang tewas ada dua orang, cowok dan cewek. Saat itu, dua orang ini boncengan naik motor berusaha melarikan diri ketika digerebek oleh polisi. Langsung ditembak oleh Densus. Jatuh dan tewas dua-duanya,” kata seorang saksi mata, Ade Irawan, di lokasi, Selasa (9/3).
Dari rumah Dr Fauzi di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang, petugas menyita laptop, CD dan dua kantong plastik. “Itu yang saya lihat ada laptop, CD, sama dua plastik tetapi saya tidak tahu isinya apa,” kata Ketua RT 03/RW V, Pamulang, Tangerang Selatan, Zaini, Selasa (9/3).
Zaini mengaku diminta oleh Densus 88 sebagai saksi. “Selain saya, saya juga mengajak seorang warga. Jadi saksinya dua orang,” ujar dia.
Keterangan saksi perihal salah satu teroris yang tewas wanita, langsung dibantah Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang. “Tak ada wanita yang tewas,” katanya. “Tiga-tiganya yang tewas laki-laki.”
Pengamat teroris, Mardigu yakin kalau yang tewas dalam penggerebekan itu orang yang paling dicari-cari oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) ini. “Kemungkinan, saya sudah pasti itu Dulmatin. 75 persen Dulmatin,” ujar Mardigu.
Menurut Mardigu, Dulmatin memiliki tiga keahlian khusus. Oleh karena itu Dulmatin berani mengirim orang ke Aceh untuk berlatih terorisme.
“Keahlian Dulmatin itu jungle war seperti di Mindano. Dia bisa pola sniper seperti di Mumbai dan dia bisa bombing seperti Dr Azhari,” ungkap dia.
Sementara itu, keluarga Dulmatin di Pemalang, Jawa Tengah, masih ragu kerabat mereka adalah teroris yang tewas di ruko Multiplus, Pamulang, Tangerang Selatan. Namun mereka siap jika diminta untuk mengidentifikasi jenazah. “Kami siap dipanggil. Kalau memang diminta ke sana (Jakarta) kami siap,” kata kakak Dulmatin, Azam Baabut. (dtc/sus)