Masuk untuk menjadi mahasiswa dalam sebuah Perguruan Tinggi (PT), saat ini bisa dilakukan melalui berbagai jalur. Mulai dari Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hingga Swadana.
Jika pada jalur PMDK atau SNMPTN seseorang yang dinyatakan gagal tes tidak bisa diterima, untuk jalur swadana, seseorang yang gagal tersebut diberikan kesempatan untuk bisa diterima dengan membayar uang lebih. Namun demikian, mereka yang melalui jalur swadana tersebut bukan sembarangan membayar saja, mereka tetap dilihat dari kemampuannya. Istilahnya, hanya kurang sedikit di bawah nilai kelulusan.
“Jalur Swadana itu alternatif bagi calon mahasiswa yang telah mengikuti SNMPTN tapi belum lolos. Untuk perbandingan daya tampungnya sendiri hanya 10 persen saja. Sedangkan untuk jalur SNMPTN sebesar 65 persen dan jalur PMDK sebesar 25 persen,” ungkap Pembantu Rektor Bidang Akademik, Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Ravik Karsidi, M.S, Jumat (5/2).
“Jika mereka yang telah lolos jalur PMDK ataupun SNMPTN ada yang mengundurkan diri, kuotanya kemudian diberikan kepada mereka yang masuk melalui jalur swadana. Sehingga, jumlah yang diterima melalui jalur swadana bisa lebih dari 1- persen,” imbuhnya.
Jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya konsep swadana adalah memberikan beban lebih pada mahasiswa yang gagal dalam SNMPTN maupun PMDK agar mereka bisa diterima masuk namun hanya pada saat awal masuk kuliah saja. Biasanya, mahasiswa yang melalui jalur swadana dibebani dengan Bantuan Pengembangan Institusi (BPI). Namun, untuk pembayaran SPP maupun biaya per semester sama. Bagaimana pada praktiknya?
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) yang masuk melalui jalur swadana, Dinarwati Irwanto mengungkapkan, jalur ini dipilih karena ia tidak lolos jaring SNMPTN.
Seleksi Alam
Saat ditanya mengapa tetap memilih jalur ini, Ia mengaku sudah bertekad bisa masuk di universitas negeri, walaupun dengan biaya yang lebih mahal dari jalur yang lain dan biaya per semester juga akan lebih tinggi daripada mahasiswa yang lolos jalur lainnya.
“Saat ini di Program Studi (Prodi) PGSD perbandingan kelas antara jalur Swadana dan jalur SNMPTN adalah 1 banding 5. Saya berharap, pemerintah dan perguruan tinggi memperbesar daya tampung untuk masuk melalui jalur SNMPTN,” katanya.
Terpisah, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, I Nyoman Sukerna, S Kar, M.Hum, mengungkapkan, pihaknya tidak menggunakan jalur swadana dikarenakan mahasiswa sebelumnya telah terseleksi secara alamiah melalui ketertarikan dan minatnya sendiri.
“Kami tidak menggunakan jalur swadana ya karena mahasiswa yang berada di ISI sebelumnya telah melalui seleksi alam, yaitu bakat dan minat. Sedangkan untuk dana pengembangan kampus biasanya setiap fakultas menerapkan kebijakan yang berbeda. Hal ini dikarenakan fasilitas yang berbeda-beda pula. Jika diperhitungkan tingginya biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa akan setimpal dengan fasilitas yang diterima,” terangnya.
Jadi bagi calon mahasiswa yang telah memantapkan diri ingin kuliah, persiapkan senjata intelektual agar nantinya dapat lolos di jalur SNMPTN dan PMDK yang nantinya akan mendapatkan subsidi biaya dari pemerintah. Namun, tidak ada salahnya juga mempersiapkan dana yang lebih untuk memasuki jalur alternatif melalui jalur swadana demi mendapatkan kampus idaman. (adi/chan)
Hanya untuk Penuhi Kuota?
Senin, 08/02/2010 11:00 WIB - adi/chan






