SOLO—Masa duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), merupakan masa sulit dalam perkembangan anak. Sebab, pada usia tersebut anak sedang kuat-kuatnya mencari jatidiri.
Demikian dikatakan Paula Santi Rudati salah seorang pembicara dari Politeknik Negeri Bandung dalam seminar tentang perkembangan anak. Seminar itu digelar dalam rangkaian acara Reuni Intan (60 Tahun) SMA Pangudi Luhur St Yosef Solo, di aula setempat Selasa (10/5).
“Karena itu perlu adanya kemandirian agar mereka mendapatkan apa yang mereka cita-citakan,” ujar Paula dalam seminar yang diikuti siswa dan orangtua siswa itu.
Paula menuturkan, sekarang sungguh berbeda dengan zaman dulu di mana anak dituntut mandiri. Tetapi sekarang anak cenderung suka dilayani. “Karena itu kita sebagai orangtua cukup menyiapkan kebutuhannya saja dan membiarkan anak menyadari apa yang sesungguhnya mereka butuhkan,” papar dia.
Anak juga sepantasnya tidak diberikan beban untuk selalu harus memiliki peringkat bagus di sekolah. “Cukup ditumbuhkan kesadarannya dan bukan beban. Dengan demikian diharapkan anak dapat menganalisa sendiri,” imbaunya.
Salah seorang pembicara yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Aria Bima mengatakan, saat ini anak berada dalam atmosfer yang materialistis, pragmatis dan individual.
“Ini merupakan tantangan bagi orangtua dan guru mengingat akibat dari itu semua adalah anak akan mencari kesenangan singkat dan dengan cara yang singkat pula.
Penanganannya antara lain dengan komunikasi keluarga. Selain itu perlu adanya sinergi antara pendidikan dan kultur. n Farrah Ikha Riptayani
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







