Bernapas dan berenang bagai ikan di dalam air, tiba-tiba menjadi mudah dan menyenangkan, semenjak Jacques Coesteau seorang pensiunan Angkatan Laut Perancis pada tahun 1943 menemukan aqualung, tabung udara yang memungkinkan seorang penyelam mengangkut peralatan ringan, namun dapat bertahan sedikitnya satu jam di dalam air. Perlengkapan tersebut yang terus berkembang demi kenyamanan dan keamanan itu, lazim disebut SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus) yakni perlengkapan selam yang dibawa sendiri.
“Memang, peralatan selam scuba sekarang menjadi sangat praktis, mudah dan aman. Percaya atau tidak, bahkan orang yang tidak terlalu pandai berenang pun sekarang bisa menyelam. Berenang itu satu hal, tetapi menyelam adalah hal yang berbeda,” tutur Ruth Hesti Utami, seorang eksekutif muda di Jakarta yang sudah lima tahun menggeluti hobi selam.
Kenikmatan menyelam, digambarkan oleh Ruth setidaknya beberapa lipat kali kenikmatan seorang pendaki gunung. Memandangi keindahan alam yang jauh lebih memesona, dan tidak diperlukan kekuatan fisik yang berlebih. “Di gunung seorang pendaki hanya bisa melihat keindahan lembah dari jauh, tetapi di dasar laut kita bisa langsung mendekat ke keindahan itu dengan sekejab hanya dengan beberapa kayuhan ringan,” ujar perempuan bertubuh mungil itu.
Dengan peralatan selam scuba, seorang penyelam bisa menikmati keindahan bawah air hingga kedalaman 40 meter. Tentu, diperlukan sejumlah syarat sebelum seseorang diizinkan menyelam. Syarat dasar, tentu harus berbadan sehat, yang bisa diukur dengan berjalan kaki sejauh 1.400 meter dengan batas waktu 12 menit. Idealnya, seorang penyelam juga harus bisa berenang dengan gaya bebas sejauh 200 meter tanpa batasan waktu dan berenang di tempat selama 10 menit.
Selebihnya, tinggal belajar menyelam. Harus diakui, meski menyenangkan, menyelam memiliki sejumlah risiko fatal jika dilakukan tanpa pengetahuan yang cukup dan disiplin ketat. Yang paling banyak menelan korban, adalah dekompresi, yakni penyakit yang timbul karena akumulasi gas nitrogen dalam tubuh.
“Udara yang kita hirup saat bernapas itu sebagian besar oksigen dan nitrogen. Karena pengaruh tekanan air, sangat berbahaya jika naik ke permukaan secara tiba-tiba. Seperti botol soda yang tutupnya dibuka, akan timbul gelembung gas nitrogen dalam saluran darah. Dalam akumulasi tertentu itu sangat berbahaya, bisa menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian,” tutur Ruth.
Karena risiko-risiko semacam itu, seorang penyelam diwajibkan memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh sejumlah lembaga bertaraf internasional. Ada beberapa nama yang sangat dikenal, seperti CMAS (Cenfederation Mondiale des Activites Subaquatiques) dari Perancis yang menjadi afiliasi Persatuan Olahrasa Selam Seluruh Indonesia (POSSI), atau PADI (Professional Association of Diving Instructor) dari Amerika Serikat. Masing-masing lembaga memiliki sistem pendidikan yang sedikit berbeda, namun semuanya berlaku internasional.
Keuntungan terbesar bagi pehobi selam di Indonesia, adalah berlimpahnya diving spot (lokasi penyelaman) yang tergolong paling cantik di dunia, jumlahnya ratusan, tersebar dari Sabang hingga Merauke. “Rugi sekali kan kalau kita tidak menikmati itu semua, sedangkan orang dari negeri-negeri yang jauh saja datang ke sini hanya untuk melihat isi lautan kita. Maka, ayo menyelam,” kata Ruth. (Ari Kristyono)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







